Laman

Minggu, 11 Desember 2011

Emotional Eating?? hmmmmm...

Nina sudah mencoba berbagai cara untuk menurunkan berat badannya, tetapi tetap saja berat badan Nina tidak turun, malahan cenderung naik. Nina sudah berdiet, mengurangi porsi di setiap makannya. Selain itu, Nina juga sudah mengikuti olahraga di fitness club. Akan tetapi, saat Nina bertengkar dengan pacarnya, atau saat pekerjaan menumpuk di kantor, Nina mengemil untuk menghilangkan rasa sedih dan stresnya. Tanpa sadar, biasanya Nina dapat menghabiskan 2 potong es krim, sekotak coklat, dan sebungkus snack sambil menonton film, padahal ia baru saja makan malam. Apa yang salah dengan Nina? 

Emotional Eating
Fenomena yang terjadi pada Nina diistilahkan sebagai emotional eating. Emotional eating merupakan respon terhadap emosi yang dilampiaskan dengan cara makan meskipun kondisinya sedang tidak lapar. Dan secara tidak sadar, fenomena ini dapat memicu seseorang mengalami berbagai kelainan makan seperti binge eating atau bulimia nervosa. Binge eating sendiri merupakan keadaan dimana seseorang makan dalam porsi yang berlebihan dan dapat dikatakan tidak normal sementara bulimia nervosa merupakan kelainan yang membuat seseorang makan sangat banyak kemudian dimuntahkan kembali. Dan bagi mereka yang menderita obesitas pada umumnya termasuk kelompok emotional eaters.
Beberapa teori menjelaskan mengenai fenomena ini. Teori psikosomatik menjelaskan bahwa orang yang melakukan emotional eating karena tidak sensitif terhadap rasa lapar atau kenyang yang berasal dari dalam tubuh. Sementara teori eksternalitas menyatakan bahwa orang merespon secara berlebihan terhadap adanya rangsangan yang berhubungan dengan makanan dari sekitarnya tetapi tidak sensitif terhadap sinyal lapar dan kenyang dari dalam tubuhnya. Teori lainnya, restraint theory, menyatakan bahwa rangsangan makanan dari luar dan emosi negatif dapat mengganggu usaha untuk membatasi asupan makanan dan mengontrol berat badan.(wrp)

Anda termasuk Emotional Eater?
Untuk mengetahui apakah Anda termasuk emotional eater atau tidak, coba ikuti tes yang dilakukan oleh WRP science beauty life ini. 
klik 

93% Wanita Benci Tampilan Rambutnya

Apakah Anda sering merasa penampilan kurang maksimal karena  mengalami bad hair day? Anda tidak sendirian. Hasil survei Dove tehadap 1.000 wanita usia 18-65 di AS menemukan, hanya 7 persen dari wanita dalam jajak pendapat menyukai tampilan rambut mereka.
Hasil jajak pendapat sekaligus membuktikan besarnya waktu maupun uang yang dihabiskan untuk membeli perawatan dan kosmetika rambut bukan jaminan untuk membuat wanita percaya diri dengan penampilan rambut. Sejumlah wanita merasa tak nyaman dengan mahkota kepala mereka. Berikut beberapa statistik dari survei, dikutip dari Shine.

 
1. Sebanyak 67 persen wanita mengatakan rambut mereka yang kusut dan sulit diatur kerap memiliki ‘pikiran sendiri’.
2. 20 persen wanita mengatakan mereka melewatkan berhubungan sosial karena mengalami bad hair day.
3. 45 persen merasa perawatan rutin rambut lebih penting daripada sarapan pagi.
4. 39 persen wanita lebih peduli menata rambut daripada merias wajah.
5. 35 persen wanita memilih menghabiskan waktu untuk perawatan rambut daripada tidur lebih lama.
6. 58 persen wanita menggunakan tiga produk rambut sehari untuk menata rambut mereka.
Bagaimana dengan Anda?
(VIVANEWS)

Jumat, 04 November 2011

Manfaat Apel: #Edisi Buah Ajaib Bagian 2

Mengonsumsi makanan sehat seperti buah memang sangat dianjurkan. Salah satu buah yang bisa Anda masukkan dalam menu sehat harian Anda adalah apel.
Buah berkulit mengilap dan memukau ini ternyata menyimpan banyak manfaat kesehatan untuk tubuh Anda. Seperti dikutip dari laman Shine, ketahui manfaat kesehatan dalam buah apel:
1. Mereka Makanan Lambat
Dikemas dengan kandungan serat lima gram mampu memenuhi 20 persen dari nilai asupan gizi harian Anda. Tekstur buahnya yang renyah bisa memaksa Anda untuk berusaha mengunyah. Kegiatan ini bermanfaat sebagai pengganti senam wajah.
Selain itu, pemanis alami dalam apel mampu memasuki aliran darah secara bertahap, membantu menjaga kadar gula darah dan tingkat insulin stabil sehingga Anda merasa kenyang lebih lama.
2. Melindungi Paru dan Mencegah Asma
Berdasarkan penelitian yang dikembangkan dari Britania Raya menyatakan, wanita yang mengonsumsi buah apel secara rutin saat mengandung bisa memberikan keuntungan kesehatan pada bayi yang akan dilahirkannya.
Selain itu, konsumsi apel bisa mencegah anak mengembangkan penyakit asma ketika usianya mencapai lima tahun. Buah ini juga dapat melindungi paru-paru orang dewasa, menurunkan resiko asma, kanker paru-paru, dan penyakit lainnya.
3. Pengikis Kolesterol
Berkat dua komponen kunci, pektin (sejenis serat) dan polifenol (antioksidan kuat), apel dapat mengambil mereduksi kadar kolesterol darah dan mencegah oksidasi LDL (”buruk”) kolesterol, proses kimia yang mengubah menjadi plak penyumbatan arteri.
Trik untuk memaksimalkan manfaatnya, jangan membuang kulitnya, kulit apel memiliki dua sampai enam kali senyawa antioksidan seperti daging.
4. Melawan Kanker
Lab penelitian telah menunjukkan bahwa beberapa senyawa dalam buah berair dan berdaging renyah ini mampu membunuh pertumbuhan sel kanker. Namun, khasiatnya akan bekerja baik jika buah ini dikonsumsi secara utuh.
Orang yang mengunyah lebih dari satu hari lebih, berisiko rendah menderita kanker, mulai dari kanker mulut, esofagus, usus besar, payudara, ovarium, prostat, dan lain-lain. Para penelitia Italia memperkirakan, mereka yang mengonsumsi apel secara rutin bisa mencegah penyakit mematikan ini 42 persen.
5. Mencegah Pikun Dikemudian Hari
Mungkin karena mereka meningkatkan produksi asetilkolin, zat kimia yang mentransmisikan pesan antara sel-sel saraf, sehingga kandungan apel mampu menjaga ketajaman otak seiring pertambahan usia, meningkatkan memori, dan berpotensi mengurangi kemungkinan mendapatkan penyakit Alzheimer.
Penelitian terbaru ini telah dibuktikan oleh para peneliti dari University of Massachusetts di Lowell.(vivanews)

Daging Kambing dan Hipertensi

Makan kambing saat hari raya kurban sudah jadi tradisi. Tapi jangan sampai terlalu banyak makan kambing atau daging karena bisa menyebabkan tekanan darah meningkat. Kenapa makan kambing cepat bikin tensi naik? Daging kambing yang dikonsumsi memang bisa menyebabkan tekanan darah seseorang menjadi tinggi, apalagi jika orang tersebut sudah memiliki riwayat hipertensi (tekanan darah tinggi). Naiknya tekanan darah ini disebabkan oleh energi yang dihasilkan dari daging kambing yang dikonsumsi tersebut sangat tinggi.

"Dalam 100 gram daging kambing yang dibuat sate bisa menghasilkan energi sebanyak 150 kalori. Kalori yang masuk ini akan diubah menjadi lemak tubuh," ujar Dr dr Saptawati Bardosono, MSc, saat dihubungi detikHealth,.

Dokter yang akrab disapa Tati ini menjelaskan jika 100 gram daging kambing dijadikan gulai maka akan menghasilkan kalori sebesar 125 kalori. Sedangkan jika diolah menjadi sop kambing akan menghasilkan kalori sebesar 35 kalori karena orang tidak hanya makan dagingnya saja tapi juga beserta kuah sop dan sayuran di dalamnya.

Sedangkan cara yang paling aman untuk mengkonsumsi daging kambing adalah dengan mengonsumsinya bersama sayuran seperti tomat, wortel atau timun untuk mengurangi jumlah kalori yang masuk ke dalam tubuh.

"Jadi kalau makan sate kambing, acarnya juga dimakan jangan hanya dijadikan hiasan saja. Sedangkan bagi penderita hipertensi lebih baik tidak makan sama sekali, karena daging kambing itu sangat gurih jadi pasti susah untuk membatasinya," ujar dokter Tati.

Hal yang menyebabkan daging kambing menjadi sangat gurih adalah lemak yang terdapat dalam daging tersebut. Karena jika dilihat melalui mikroskop, daging kambing itu sendiri sebenarnya dilapisi oleh lemak. Ini karena kambing merupakan salah satu binatang yang jarang gerak sehingga dagingnya banyak mengandung lemak.

Selain menyertakan sayuran dalam mengonsumsinya, sebaiknya masyarakat tidak makan lemak yang berwarna putih dari daging kambing itu serta kurangi kue kering yang manis dan sirup-sirup yang bisa menambah jumlah kalori dalam tubuh.

"Untuk membakar 150 kalori yang berasal dari 100 gram daging kambing saja, seseorang harus berlari lebih dari satu jam," ungkap staf departemen ilmu gizi dan juga dosen di FKUI ini.

Untuk itu bagi penderita darah tinggi sebaiknya mengonsumsi daging putih saja seperti ikan atau ayam, karena mengandung lemak yang sedikit. Bagi pecinta daging kambing jangan lupa untuk mengonsumsi sayuran dan berolahraga setelah makan untuk mengurangi jumlah kalori dan lemak yang masuk ke dalam tubuh.